Notification

×

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Skandal Pelecehan Seksual, Ketua MUI Jambe: "Khilaf" Tak Bisa Jadi Alasan, Proses Hukum Harus Berjalan

Minggu, 09 Maret 2025 | 21.30 WIB Last Updated 2025-03-09T14:30:23Z
Kabupaten Tangerang - Ketua MUI Kecamatan Jambe, KH.Ahmad Ajhuri, tersandung skandal pelecehan seksual terhadap siswinya sendiri. Pria yang juga kepala sekolah SMAS Cendikia Al-Fallah ini akhirnya mengakui perbuatannya setelah awalnya membantah.  

Dalam video yang diunggah akun viral di Instagram, Ajhuri berdalih, “Demi Allah, Rasulullah, hanya dua orang, saya khilaf.” Kalimat itu diucapkannya tanpa sedikit pun rasa bersalah. Miris! 

Tapi, jangan tertipu. Sumber terpercaya menyebut korban sebenarnya tiga orang. Ini bukan sekadar “khilaf”, ini kejahatan yang merusak kepercayaan publik.  

Zarkasih, yang akrab disapa Rizal, Ketua DPD YLPK Perari Provinsi Banten, geram. “Ini bukan kesalahan kecil. Ini kejahatan yang mencoreng nama baik pendidikan dan agama,” tegasnya.  

Rizal dan kawan-kawannya tak tinggal diam. Mereka akan melaporkan kasus ini ke Komnas Perempuan dan KPAI. “Proses hukum harus berjalan seadil-adilnya,” tegasnya.  

Tak hanya itu, kasus ini juga akan dibawa ke Kementerian Agama Kabupaten Tangerang. “Kebijakan yayasan ini harus ditinjau ulang. Jangan sampai ada korban lagi,” tambah Rizal.  

Rizal juga mendesak MUI Kabupaten Tangerang mencabut jabatan Ajhuri. “Dia tidak pantas lagi memegang posisi itu. Ini sudah merusak citra Islam,” tegasnya.  

Tb. Bayu, Ketua Ormas Satgas Banten KESTI TTKDH Dpac Balaraja, ikut angkat bicara. “Ini tamparan keras bagi dunia pendidikan agama. Pelaku harus dihukum seberat-beratnya,” ujarnya.  

Bayu, warga asli Kabupaten Tangerang, menegaskan, “Tidak ada toleransi bagi pelaku pelecehan seksual. Agama dan pendidikan bukan tempat untuk bermain-main.”  

Meski Ajhuri sudah meminta maaf, Rizal menegaskan, “Maaf tidak cukup. Proses hukum harus tetap berjalan. Ini sudah mencoreng agama Islam.”  

Kasus ini menambah daftar panjang oknum pengajar yang terlibat tindakan tak senonoh. Mirisnya, ini terjadi di lingkungan pendidikan berbasis agama.  

Rizal mengkritik keras lemahnya pengawasan di yayasan pendidikan berbasis agama. “Ini saatnya evaluasi total. Jangan biarkan anak-anak menjadi korban,” tegasnya.  

Ia menekankan, “Lingkungan pendidikan harus menjadi tempat yang aman. Jangan sampai ada lagi korban yang berjatuhan.”  

Kasus ini bukan cuma masalah Ajhuri. Ini adalah cermin kegagalan sistem dalam melindungi anak-anak di lingkungan pendidikan.  

Masyarakat harus bangkit dan bersuara. Kejahatan seksual bisa terjadi di mana saja, bahkan di tempat yang seharusnya menjadi benteng moral. Jangan diam,kita harus lawan.
Red